Corporate Social Responsibility Seminar
Kemarin dari kantor (15-16 Nov) dewi ikut seminar CSR (Corporate Social Responbsibility) di Hotel Bororbudur, Jakarta . Inti seminar itu sih, bagaimana tanggung jawab perusahaan terhadap masyarakat. Pada dasarnya seminar itu bagus, bagaimana perusahaan dapat mampu berkembang. Dan dalam perkembangan perusahaan tersebut sebenarnya ada turut campur masyarakat baik langsung maupun tidak langsung. Karenanya, boleh jadi CSR ini bisa dikatakan sebagai bayar Hutang atas apa yang telah "diberikan" masyarakat sekitar kepada perusahaan.
Dalam perkembangannya kini, CSR bukan hanya "dinikmati" oleh masyarakat sekitar perusahan itu beroperasi, namun juga skala nasional, sehingga stakeholdernya menjadi semankin luas.
Contohnya, sampoerna yang memberikan program beasiswa kepada pelajar berprestasi, unilever dengan lifebuoynya membuat MCK di beberapa sekolah dan banyak lagi. semua pembicara, Top, dewi salut, cukup memberi motivasi bagi dewi yang kelak akan menjadi pengusaha hebat yang HARUS memiliki tanggungjawab sosial pula kemasyarakat.. hehehehe AMIN!!!
Namun dari rangkaian seminar kemarin, ada satu pembicara yang sangat dewi kagumi, pak Palgunadi T Setiawan. Dalam ceramahnya, Pal mengatakan, bahwa umumnya kita hidup berdasarkan target dan tujuan. Apa itu salah?? Tentu tidak. Namun kita lupa, sebenarnya ada yang lebih dari hanya sekedar target dan hasil yang kita dapat, tapi rasa bersyukur dalam menjalani kehidupan. Umumnya kita kurang mensyukuri apa yang telah kita dapat (namun bukan dalam target kita). Misalnya target kita Z, tapi tanpa kita sadari, sebenarnya kita telah mendapat a, b, c, d dst.. Tapi kita lupa bersyukur kepada yang maha pemberi, ALLAH.
Dan juga hampir sebagian dari kita lupa, bahwa dalam kita meraih sukses yang telah kita dapat, ada juga bantuan dan campur tangan dari banyak pihak. Oleh karenanya, setelah kita menikmati apa yang kita dapatkan, jangan lupa kebahagiaan kita harus dibagi secara berjamaah atau bersama-sama........
Diluar itu, ada satu peserta yang bertanya, "Pak, kenapa yah, saya selalu berfikiran negatif kepada orang lain. Kalau ada motor yang diberhentikan polisi, pasti saya menduga, akan dimintain uang. Padahal belum tentu."
Ugh, ibarat gada besar, itu sangat nyindir dewi banget!!!!!!!
Yah, pak Pal bilang, setiap kita semestinya mendapatkan CBT (Cognitif Behaviour Therapy) untuk menghilangkan sikap yang selalu negatif thingking... Yah, gak salah juga sih pandangan mereka, karena sistemlah yang membuat polisi, atau pengendara, atau semua pihak wajib di suudzonin...
Yah, semoga saja dewi apabila menjadi seseorang yeng memiliki posisi lebih bisa menyadari akan makna kemersamaan dan tanggung jawab. Semoga bisa, karena dewi pernah mengalami masa-masa sulit..
hehehe.........

0 Comments:
Post a Comment
<< Home